Arah dan Waktu
DUNIA SANGAT
TIDAK ADIL!!!
Kalimat itu spontan saja diucapkan oleh Raka setelah hampir setengah
jam ia berlari menjauh dari rumahnya dan berada di sebuah lapangan rumput yang
luas. Raka tidak kuat dengan segala situasi yang ada di rumahnya saat ini.
Hanya kesendirian yang ia butuhkan, bersama dengan secarik foto yang ia pegang
di saku celananya. Tetesan air mata tak mampu lagi ia bendung. Semuanya telah
hilang bersama dengan harapan-harapan yang telah ia simpan hampir 6 tahun
lamanya. Semangat yang selalu ia pegang selama ini hancur oleh satu kejadian
yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya.
Apa yang harus aku lakukan saat ini...? Apakah kisah ini akan
berakhir begitu saja....? Ketika awal hidup yang baru menjadi akhir dari
semuanya...?
Raka bukanlah tipe orang yang sangat mudah menyerah, namun dengan
kejadian seperti ini apakah keyakinannya masih tetap sama? Apakah mimpinya
masih tetap ada? Dan semua pertanyaan yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya
hingga membuat segalanya menjadi mudah untuk di akhiri. Arah yang selama ini ia
rancang, ia susun dan akan di wujudkan tiba-tiba saja pudar terganti oleh
lubang keputusasaan.
Tiba-tiba teringat satu titik cahaya yang masih ia jaga dan
pertahankan sampai saat ini. Semangat yang ia bangun selama 3 tahun di bangku
sekolah dengan seseorang yang membuatnya semakin yakin akan masa depan yang
indah.
Di keluarkannya hp dari saku celana dan mulai menelpon satu nama
teratas dalam kontaknya.
terdengar suara telepon itu
diangkat oleh seseorang
“...Assalamualaikum,iyah
ka,ada apa?”
“waalaikumsalam Maya, gapapa kok cuma lagi ingin nelpon.” jawab raka
agak sendu
“Kamu kenapa Ka? Kok seperti habis menangis? ” tanya Maya
“Maya, apakah kita masih tetap sama?” Tanya raka tiba-tiba tanpa
mengubris pertanyaan maya
“Sama maksudnya apa yah? Maya gak ngerti?” Ujar maya bingung
“Maksud Raka, Apa Maya akan tetap selalu besama raka dan mewujudkan
mimpi-mimpi bersama?”
Terdengar suara helaan napas maya lalu berkata “Sebelumnya Ka, aku
minta maaf banget sama kamu, aku gak tau ini waktu yang tepat atau tidak. Tapi
aku gak mau buat Raka semakin khawatir. Aku tau bagaimana perasaan kamu ke aku
tapi aku gak mau buat kamu makin sakit dengan segala apa yang kamu rasakan saat
ini”
“Maksud kamu gimana May?” Tanya Raka bingung dan panik
“Aku tau kamu akan dapat yang lebih baik dari aku, aku gak mau buat
kamu makin sakit lagi. Jadi lebih baik kita saat ini sebagai teman aja yah ka”
Seketika itu juga hati raka semakin bertambah sakit dengan apa yang
di ungkapkan oleh maya secara tiba-tiba. Raka kira dengan menelpon maya
semuanya akan menjadi lebih baik. Cahaya itu masih tetap ada. Namun semuanya
benar-benar musnah dari pandangan Raka. Tanpa menjawab Maya, ia segera
mematikan telepon tersebut.
Raka segera menjauh dari lapangan tersebut dan berlari menuju jalan
raya. Dari arah yang berlawanan muncul sebuah truk pasir yang melaju kencang.
Raka yang tidak fokus dengan arah larinya langsung sepersekian detik mengantam
truk tersebut dan...
Gelap, semuanya terlihat gelap. Tiba-tiba raka bangun dengan
perasaan kaget bukan main. Ternyata yang ia alami saat itu hanyalah sebuah
mimpi. Kenangan dari masa lalunya yang kembali merasuki alam bawah sadarnya dan
membuatnya takut.
Ia melihat jam dinding kamarnya sudah menujukkan pukul 6 pagi.
Hampir saja ia terlambat bangun, karena hari ini jadwal pagi dengan dosen pak
Dodo yang sangat anti dengan kata terlambat. Dengan segera ia bangun dan
bersiap-siap menuju kampus.
Tidak terasa sudah hampir 2 tahun sejak peristiwa yang penuh dengan
emosi. Namun bukan seorang raka yang tiba-tiba menyerah begitu saja. Dengan
sisa tenaga yang ia miliki, akhirnya sedikit demi sedikit ia bangkit. Namun
tetap saja rasa takut tersebut masih saja menghantuinya di dalam mimpi.
Saat ini Raka melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi Negeri
di Malang. Dengan berbekal doa serta keyakinan, raka memulai semuanya lagi dari
Nol. Meskipun tidak banyak yang menolak bahkan menganggap remeh keputusan Raka
untuk kembali sekolah namun selalu ada jalan bagi raka untuk tetap bangkit. Dan
juga ibunya yang tidak pernah putus mendukung setiap keputusan Raka meski
beliau tau bahwa raka masih belum sepenuhnya lupa akan kejadian tersebut.
…
Kuliah kali ini benar-benar menguras tenaga Raka. bagaimana tidak
dari pagi hingga pukul 4 sore hanya di selingi istirahat makan siang dan itupun
belum cukup baginya untuk beristirahat. Ditambah lagi-lagi Pak dodo dengan
entengnya memberikan tugas tambahan untuk mahasiswa yang tidak bisa dibilang sedikit.
Namun entah kenapa raka berinisiatif untuk singgah ke Danau kampus terlebih
dahulu. Ia tidak ingin melewatkan “ritual”nya setiap sore di tempat favoritnya
itu. Dengan masih mengenakan kemeja yang di gulung setengah ia langsung duduk
selonjoran di halaman rumput disekitar danau.
Cukup banyak orang-orang yang juga menghabiskan sorenya seperti
raka. Namun, matanya tiba-tiba saja menatap ke arah kerumunan orang yang sepertinya
sedang melakukan perkumpulan. Dan fokus raka tertuju pada seorang perempuan kecil
berkerudung merah dengan kacamata hitamnya yang agak kebesaran sedang duduk
tidak jauh dari tempatnya. Sepertinya perempuan tersebut sadar akan tatapan
raka, ia langsung menengok ke arah raka berada. Ketika kedua mata itu beradu
pandang, terasa sekali raka salah tinggah dan segera membuang pandangannya ke
arah lain. Dengan tetap bersikap layaknya tidak ada apa-apa raka melanjutkan ritualnya.
Ia mengeluarkan buku tulisnya dan mencoba menulis ide-ide yang dari pagi ia
simpan. Namun fokus raka sudah tidak lagi pada menulis, ia lebih ingin kembali
melirik perempuan mungil itu. Ia makin penasaran apakah perempuan tersebut
masih melihat ke arahnya. Namun saat raka melihatnya kembali ternyata perempuan
tersebut sudah berjalan pulang entah kemana. Yang ia lihat hanya tubuh mungilnya
dari belakang. Raka menutup sore itu dengan rasa kecewa dan penasaran.
Keesokan harinya seperti biasa raka kembali dengan aktivitasnya di
kampus. Berkutat pada kelas, kumpul organisasi, rapat, kelas lagi, dan ditutup
dengan ritual sorenya. Namun pada sore ini sedikit berbeda. Raka masih
penasaran dengan perempuan yang kemarin bertatapan dengannya. Ada rasa lain dirasakan
oleh raka sampai ia ingin sekali bertemu kembali dengan “Si mungil” tersebut. Itulah
Panggilan tidak resmi darinya. Akan tetapi hingga menjelang magrib, raka tidak
menemukan apa yang dicarinya. Dengan sedikit kecewa rakapun memutuskan untuk kembali
ke kamarnya.
Malam harinya raka mendapat chat dari ketua departemen di
himpunannya untuk rapat di salah satu cafe di dekat kampus. Dengan sedikit tergesah-gesah
diakibatkan rapat yang agak mendadak tersebut raka baru sampai setengah jam
kemudian. Dilihatnya teman-teman serta yang lain sudah berkumpul. Namun fokus
raka bukan kepada mereka, namun ia lebih kaget ketika melihat seorang perempuan
yang tadi sore ia cari-cari. Sesampainya di dekat meja mereka rakapun meminta
maaf akan keterlambatannya serta mengambil tempat duduk yang ternyata dekat dengan
perempuan tersebut. Selama rapat raka benar-benar tidak fokus dengan diskusi
malam itu. Ia lebih fokus pada orang disebelahnya.
“jadi gitu yah, gimana Ka? Udah paham kan?” tegur Dani, Ketua
departemen raka
Raka yang sedari tadi hanya melamun kaget dan bingung untuk menjawab
apa
“gimana maksudnya? Bisa diulangi gak dan?” ucapnya sambal cengegesan
“gimana maksudnya? Bisa diulangi gak dan?” ucapnya sambal cengegesan
“Lah gimana sih lu Rak, kirain tadi lu nyimak. Kan lu sebagai Project
Office program ini bareng sama Rani dari anak Bemnya. Fokus dong” tegur Dani
“Gak fokus tuh lagi mikirin cewek!” Celetuk Brian, anggota
departemen Raka
“Rani tuh yang mana yah? Maaf nih bener-bener lagi gak fokus” tanya
Raka
“Lah gimana dah? Orangnya daritadi duduk sebelah lu juga. Wah bener-bener
nih anak. Maafin yah Rani, kebanyakan Nongkrong di danau jadi kesambet dia”
ujar brian membuat semuanya tertawa
Perempuan yang sedari tadi
dibicarakan oleh kawan-kawannya pun hanya tersenyum manis
Ohh jadi Namanya Rani toh batin Raka
mengetahui nama si Mungilnya itu.
Setelah obrolan serta diskusi yang lebih banyak di sampaikan oleh
Danipun akhirnya selesai dan semuanya pamit pulang ke kosan masing-masing. Seketika
itu Raka mencoba memberanikan diri mengajak bicara Rani.
“Hai Ran! Btw maafin yah sikap temen-temen gw tadi gak jelas itu. Maafin
juga gw gak tau kalo rani itu elo” Ujar Raka
“Iyah gapapa kok, lagian aku juga baru tau ternyata orang yang
kemarin curi-curi pandang aku di danau itu kamu” jawabnya sambil tersenyum
“duh jadi malu nih hehehe, iyah maaf yah pasti kamu jadi risih. Oiya
kita kan setahun ini bakal kerja bareng. Mohon bantuan dan kerjasamanya yah
buat project ini” ucap Raka makin salah tingkah
“Siap laksanakan pak ketua, aku pamit balik dulu yah Ka”
“emang kosan kamu dimana Ran?” Tanya Raka penasaran
“gak jauh kok dari sini”
“kalua gue anterin gimana? Kan gak baik cewek pulang sendirian”
tawar Raka pada Rani
“gapapa kok aku bisa pulang sendiri” jawab Rani membuat Raka sedikit
kecewa
Tapi bukan raka kalau langsung nyerah gitu aja
“aku malah seneng bisa anterin kamu balik? Boleh yah? Itung-itung bantuin
partner lah dan permintaan maaf gue juga”
Ranipun hanya mengangguk pelan ajakan Raka, Setelah itu Raka meminta
tolong brian untuk meminjamkan motornya karena saat itu Raka belum mempunyai
kendaraan.
“Ahh modus lu Rak, buruan yah gue ngantuk nih mau bobo ganteng”
katanya sambal memberikan kunci motor kepada Raka.
Setelah Hari itu, Raka semakin dekat dengan Rani disamping mereka
berdua adalah partner. Tidak ada habis akal raka untuk selalu mendekati rani dengan
berbagai macam cara. Mulai dari membawakan makanan kesukaan rani hingga
mengantarkannya ketika dia sakit. Sehingga…
Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar